Membeli dan memiliki rumah memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Lahan yang semakin hari semakin terbatas, ditambah harga tanah dan bangunan yang kian melambung, membuat impian untuk memiliki tempat tinggal semakin sulit dicapai.
Dalam hal ini, pemerintah turut mengambil bagian untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, yaitu melalui subsidi rumah dengan KPR yang pada dasarnya rumah subsidi maupun tanpa subsidi, pada dasarnya sama jika dilihat dari sisi kualitas dan mutu pembangunan.
Pertimbangan Sebelum Membeli Rumah KPR
Kata rumah subsidi dan non-subsidi itu adalah untuk upaya Kredit Pemilikan Rumah, biasanya rumah subsidi diperuntukkan bagi rumah yang murah dengan luasan dan kualitas finishing tertentu.
Sedangkan yang non-subsidi, biasanya pengembang sudah menerapkan finishing yang berbeda sebagai unsur estetika. Di luar harga, memang tak ada perbedaan yang signifikan antara rumah subsidi dan non-subsidi.
Rumah subsidi dibangun oleh pengembang, dengan didukung dan difasilitasi pemerintah. Selama pembangunannya benar, tak ada masalah. Rumah subsidi itu juga harus memenuhi krtiteria nyaman, kuat, dan sehat, karena itu yang diinginkan pemerintah. Ini yang harus dicek dahulu. Sekali lagi, perbedaan secara bentuk mungkin lebih pada sisi variasi estetis.

Namun seperti membeli rumah pada umumnya, berikut adalah beberapa pertimbangan sebelum membeli rumah KPR :
Infrastruktur Lingkungan
Pastikan daerah tersebut tidak rawan banjir. Hal ini tak cukup dengan memercayai tulisan yang tertera pada brosur, calon pembeli bisa langsung mengecek kondisi daerah tersebut, apakah berada di atas atau di bawah peil alias batas ketinggian banjir, melalui PU setempat.
Selain itu, mengingat beberapa perencanaan infrastruktur permukiman belum integrasi ke seluruh akses, sebaiknya cek juga jalur menuju lokasi tersebut. Terlebih pada perumahan dari investor kecil, dikhawatirkan perencanaan dilakukan hanya di lingkup kompleks saja, tanpa memperhitungkan, misalnya, bila ada sungai tak jauh dari situ.
Air
Pastikan aliran air lancar sehingga di kamar mandi, misalnya, tidak mengalami rembes. “Ini memang sulit dicek, karena salurannya di dalam tanah. Dapat ditanyakan ke mana air-air dari kamar mandi keluar? Lalu cek dengan mengguyur beberapa ember air di kamar mandi dan pastikan airnya keluar dari saluran di tempat keluar dengan lancar.”
Sanitasi Terintegrasi
Aturan bakunya, septic tank itu harus berjarak 14 meter dari sumur untuk menghindari bakteri masuk ke sumber air rumah tangga. masalahnya pada rumah yang lebarnya sekitar 5 meter, dan panjang ke belakang 10 meter, kadang ini yang menjadi sulit.
Belum lagi Anda tak selalu tahu di mana tetangga menempatkan septic tank- nya. Tentu, ini perlu koordinasi. Selain itu, ada kecenderungan pemilik rumah meluaskan area hunian dengan memangkas lahan bebas di belakang rumah.
Sehingga dinding belakang rumah saling menempel dengan dinding pembatas tetangga. Ini membuat rumah menjadi tidak sehat. Masalahnya tak ada sirkulasi yang berputar. Aliran udara tak mengalir secara maksimal dan bagian belakang hunian menjadi tak terpapar cahaya matahari sama sekali.
Lalu jalan keluarnya memasang AC karena takut pengap atau panas, yang artinya penggunaan energi meningkat.
Memberikan perlindungan Asuransi bagi rumah anda sangatlah penting, agar dapat mengurangi kerugian yang terjadi apabila terjadi musibah pada rumah anda. Hubungi kami untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai asuransi rumah.